Attack on Titan dan Upaya Memutus Mata Rantai Kebencian

Cerita yang bermutu adalah cerita yang memiliki banyak penafsiran. Hajime Isayama tahu betul tentang prinsip itu. Dia menempatkan Attack on Titan (AoT) sebagai ruang yang surplus percakapan. Menyebabkan AoT adalah sejauh apa yang bisa kita tafsirkan. 

Kita masih ingat, misalnya,  bagaimana tiga dinding besar yaitu Maria, Rose, dan Sina melindungi umat manusia dari para titan. Tafsir eksistensialisme dapat dengan mudah meresap ke dalamnya. Seolah-olah AoT tentang faktisitas, struktur, dan upaya manusia merengkuh kebebasannya yang paling paripurna.

Sementara itu, kita akan ternganga melihat perjuangan para pasukan penyelidik mencari tahu apa yang sebetulnya ada di luar dinding. Tepat saat umat manusia memahami realitas di luar dinding sebagai mysterium tremendum et fascinans. Sebuah ungkapan klasik bagaimana ketidaktahuan manusia adalah sesuatu yang menggentarkan sekaligus menakjubkan. 

Di satu sisi, realitas di luar dinding begitu menyeramkan. Ada sebuah hukum tak tertulis bahwa siapa pun yang keluar dinding akan mati. Titan setinggi 3-15 meter yang tak berkesadaran itu siap menyantap umat manusia hidup-hidup. Di sisi lain, ada sebuah harapan tentang kehidupan lain di luar dinding. Tak ada yang tahu sampai mereka benar-benar mencapainya. Persis seperti Yuri Gagarin menaklukkan gravitasi dan menembus luar angkasa. 

Selanjutnya kita melihat bagaimana ada fakta yang disembunyikan tentang dinding-dinding itu. Bahwa ternyata, penguasa terdahulu sengaja menghapus ingatan umat manusia. Tujuannya untuk melupakan segala sesuatu yang dinilai aib dan tidak pantas. Penguasa ingin menciptakan sebuah stabilitas yang dianggap benar dan sudah semestinya. 

Tentu mudah mencocokan peristiwa itu dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Tentang bagaimana sejarah dimanipulasi menurut selera kekuasaan. Kita mengenal tentang bibliosida (penghancuran buku) yang terjadi dari masa ke masa. Pakar perbukuan Fernando Baez, misalnya, menunjukkan peradaban dihancurkan lewat pembakaran buku-buku. 

Namun kita kemudian menyadari satu hal. AoT tak sedang berhenti di sana. Ada duduk perkara rumit yang menjadi bahan bakar cerita itu. Yakni, agenda besar memutus mata rantai kebencian yang dimulai oleh Karl Fritz, raja ke-145 Eldia. Bersama dengan fakta itu, kita disuguhkan informasi bahwa umat manusia tak hanya berada di dalam dinding. 

AoT lalu bertransformasi cerita tentang konflik ribuan tahun antara bangsa Eldia dan Marley. Eldia adalah bangsa yang terkurung di dalam dinding. Sementara itu, Marley adalah sebuah bangsa yang memiliki hubungan rumit dengan Eldia. Masih ada bangsa-bangsa lain dengan segala modernitasnya di cerita itu. 

Pendek kata, nenek moyang Karl Fritz memiliki kekuatan titan dari Ymir. Mereka mencaplok tanah dan memperbudak bangsa Marley. Sementara itu, Marley juga bukanlah tanpa cela. Jauh sebelum Eldia berkuasa, Marley digambarkan sebagai negara adidaya yang rajin melakukan ekspansi militer. Cara melihat hubungan Eldia dan Marley pun kian relatif tergantung dari sudut mana kita berpijak. 

Sekitar 1.800 tahun lalu, Karl Fritz merasa berdosa bahwa nenek moyang mereka menzalimi bangsa Marley. Karena malu, Karl Fritz mengarang sebuah konspirasi dengan keluarga Tybur. Rencana mereka adalah membuat sebuah cerita palsu tentang Helos, pahlawan perang bangsa Marley yang berhasil membunuh Karl Fritz. 

Sementara itu, Karl Fritz memilih mengasingkan diri ke pulau paradise. Dia membuat tiga tembok besar dari titan untuk melindungi rakyatnya dari dunia luar. Selain itu, Karl Fritz juga menghapus seluruh ingatan rakyatnya agar melupakan seluruh konflik Eldia-Marley.

Meski demikian, ada Eldia yang tak ikut ke pulau paradise. Mereka dijadikan warga kelas dua oleh Marley. Persis seperti nasib bangsa Yahudi di era Jerman nazi. 

Konflik kemudian dimulai ketika Marley mulai berperang dengan bangsa lain. Memang, Marley kini kembali jadi negara adidaya. Mereka memiliki tujuh titan penerus Ymir. Para Eldia yang merasa memikul dosa leluhur pun ‘dimanfaatkan’ oleh Marley. Mereka diminta menjadi subjek Ymir. 

Persoalannya, teknologi yang dimiliki bangsa lain kian canggih. Titan subjek Ymir dapat dengan mudah dikalahkan. Itu mengapa Marley berambisi untuk mengambil coordinate. Dan, ya, coordinate ada di Pulau Paradise. Siapa pun yang memiliki coordinate dapat mengendalikan titan-titan tak berkesadaran untuk tujuan apa saja. 

Kita lalu menyaksikan bagaimana Eren Yeager mengetahui fakta-fakta itu. Dia yang sudah memiliki coordinate dihadapkan pada sebuah dilema. Hingga akhirnya Eren justru memutuskan untuk menghancurkan seluruh umat manusia, kecuali Eldia, dengan coordinate. Di manga, ambisi Eren untuk meratakan bumi dengan coordinate tengah berlangsung. 

Jauh sebelum Eren tahu masa lalu bangsanya, ambisinya terbatas mengalahkan para titan tak berkesadaran dan melihat dunia luar. Namun setelah dia tahu fakta yang sebenarnya, Eren justru berpikir ulang tentang masa depan dunia.


Dari perspektif Eren, meratakan seluruh umat manusia bertujuan melenyapkan kebencian. Eren tahu betul bahwa umat manusia yang jamak  itu hanya bertikai satu sama lain. Oleh sebab itu hanya perlu satu bangsa yang ada di muka bumi, yaitu Eldia. Eren ingin menciptakan sebuah dunia yang benar-benar baru. 

Jalan pikiran Eren sederhana saja. Bila hanya ada satu ras, maka tak mungkin bersikap rasis terhadap bangsa lain. Eren pun seolah-olah menisbatkan dirinya sebagai Syiwa sekaligus Brahma. Sang penghancur sekaligus sang pencipta. Eren telah menjadi Tuhan yang melampaui prasangka manusia tentang doktrin humanisme universal.  

Sulit untuk menilai apakah tindakan Eren benar atau salah. Persis seperti kita kesulitan mencerna apakah Tuhan itu baik atau jahat. Terutama ketika dihadapkan pada situasi bencana alam atau wabah seperti virus corona saat ini. 

Jika Tuhan itu mahabaik, mengapa Dia harus meletuskan Gunung Vesuvius dan mengubur satu kota Romawi? Mengapa Tuhan harus menurunkan wabah Black Death dan menewaskan sepertiga penduduk Eropa? Mengapa nanti harus ada hari kiamat dan seluruh umat manusia harus mati? Bukankah kiamat akan menimbulkan rasa sakit bagi manusia?

Agama memang telah menyediakan sejumlah amunisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun doktrin humanisme universal tak pernah bisa menalarnya. Pun kisah-kisah kenabian memang tak kompatibel dengan gagasan modern tentang manusia. Tuhan benar-benar tak lagi ‘hitam’ dan ‘putih’.

Menariknya, Isayama sengaja membiarkan cerita AoT berada di wilayah abu-abu. Tepat ketika gagasan humanisme universal dipertanyakan ulang. Di sinilah Eren dan semesta AoT akan sesuai dengan prasangka penontonnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *