Tentang Kamu yang Tak Takut Kecoa

Ilustrasi perempuan

Kamu tak mengenalkan diri sebagai perempuan yang pandai memasak. Tidak pula mengaku sebagai wanita yang religius. Kamu, si perempuan seperempat abad, justru menyebut dirimu sebagai perempuan yang tidak takut kecoa. Menurutmu, itu adalah skill yang patut dipertimbangkan. Freak? Mungkin–meski kemudian aku memilihmu, dan voilla,  kita match.  

Mungkin bukan kebetulan bila nama depanmu sama denganku. Butuh waktu delapan jam kala kamu menjawab ‘Iya’ terhadap pertanyaan basa-basiku soal nama. Dari sanalah aku, kamu, lalu kita mulai menyambung percakapan. Mengenali latar belakang satu sama lain. Hingga kemudian sudah berjumpa dua kali. Pertama di Blok M Plaza–yang berlanjut ke Monumen Nasional (Monas); Kedua di kantormu, Kementerian PUPR. 

Selama pertemuan itu, langkah kakimu selalu cepat. Kamu berjalan seolah tak melihat apa pun. Semuanya dilibas begitu saja. Kalau sempat, suatu saat nanti, aku ingin  menimpukmu dengan buku berjudul ‘La Lanteur’ (Kelambanan) yang ditulis Milan Kundera, sastrawan asal Ceko. 

Asal kamu tahu, Kundera menyindir orang-orang yang terobsesi dengan kecepatan. Kundera mengatakan, tingkat kecepatan berbanding lurus dengan intensitas melupakan. Sementara tingkat kelambanan berbanding lurus dengan intensitas ingatan. Sederhananya, orang yang punya kenangan buruk ingin segera melupakannya. Mereka cenderung melaju secepatnya–move on

Barangkali kamu memang tengah berada di situasi tersebut. Di dalam Moda Raya Terpadu (MRT) yang ramai, kita duduk bersebelahan, lalu kamu bercerita soal hubunganmu yang kandas karena perkara klenik. Padahal seharusnya, kamu sudah seserius itu dengan pacarmu. Tentu yang bisa kulakukan adalah mendengarkan. Berharap bahwa nasib mempertemukanmu dengan laki-laki yang lebih baik.  

Kalau aku perhatikan, kamu juga seringkali menyebut dirimu sebagai perempuan yang lemot. Di lain kesempatan, kamu mengatakan hanya beruntung mendapat posisi yang strategis. Barangkali, itu semua memang merupakan caramu untuk merendah. Tetapi, aku percaya bahwa kamu adalah perempuan cerdas. Perempuan yang aku yakini bisa mendidik anak-anakmu secara baik suatu saat nanti. 

Yang aku heran, di balik wajah manismu itu, kamu suka menjahili orang.  Aku masih ingat saat kamu mendorong botol yang sedang aku teguk. Tetesan airnya lalu tumpah membasahi leherku. Yakinlah, suatu saat nanti aku akan membalasnya. Tunggu saja.

Sepekan terakhir, kamu bercerita bahwa hatimu tengah gundah. Sebuah tawaran pekerjaan dari Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Banten, yang mendarat di hidupmu membuat dirimu bimbang. Di satu sisi, kamu memang ingin menjadi dosen. Dan kamu pernah cerita itu kepadaku. Di sisi lain, berat bagimu untuk melepas pekerjaan saat ini sebagai konsultan.

Hari itu pun kemudian tiba. Pukul setengah lima sore, kamu mengabarkan bahwa dirimu telah menolak tawaran tersebut. Namun, cerita tak berhenti di situ. Keputusanmu itu justru membuat hatimu menjadi tak karuan. Ada riak penyesalan merembes ke dalam setiap sudut hatimu. Aku tahu itu.

“Aku lagi galau. Habis Hold yang Tirtayasa,” katamu singkat sore itu. 

Tersandera oleh perasaan galau memang tak enak. Aku pun pernah mengalaminya dua tahun lalu. Kala itu aku dihadapkan pada dua pilihan. Tetap di kantor lama dengan gaji yang dinaikan, atau pindah ke kantor baru dengan gaji yang bahkan lebih rendah dari sebelumnya. Ini jelas pilihan berat. Meski aku kemudian memilih yang kedua. 

Menurutku, kita memang akan selalu terbentur pada yang namanya kehilangan. Akan selalu ada kondisi ketika kita harus memilih dan melenyapkan satu kesempatan lain. Dan tak ada yang salah itu. Sebab, menjadi manusia artinya dikutuk memiliki kehendak bebas—yang seringkali memang hanya berakhir menyakitkan.  

Martin Heidegger, Filsuf Jerman itu bilang, manusia seringkali lupa akan Ada. Lupa akan dari mana berasal dan mengapa bisa terlempar di dunia ini.  Namun, rasa cemas yang menghampirimu adalah bukti bahwa kamu Ada dan terlibat.

Kala kamu bahkan tak tahu lagi apa yang terjadi di masa depan, itu tanda bahwa kamu tengah berada di jurang temporalitas. Ini yang membedakan kamu dengan benda mati. Kamu adalah manusia yang bisa mengambil keputusan hebat. Percayalah, hidupmu akan jauh lebih bermakna selepas melewati itu semua.

===========

Kebebasan adalah candu
Berwujud layaknya udara
Kamu boleh mengadu padaku
Nanti kita selesaikan bersama




1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *