Hai Kamu

Ini adalah tahun 2019 yang sebentar lagi selesai. Tapi seleramu masih itu-itu saja. Jadul dan tak pernah berubah. Backstreet Boys (BSB).  Iya— grup vokal yang berasal dari Orlando, Florida, Amerika Serikat, yang berdiri 26 tahun lalu itu. 

Setahuku, kamu lahir pada tahun 1995. Artinya saat BSB terbentuk, kehadiranmu ke dunia ini  bahkan mungkin belum direncanakan. Sementara itu, kamu masih di langit sana. Menyusuri taman eden dan bermain dengan dua malaikat penjaga. 

Tapi apa boleh buat. Musik adalah perkara selera. Dan itu berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.  Menjadi paling tahu apa yang trending jelas bukan satu prestasi. Berkubang pada musik masa lampau pun bukan berarti tak bisa menatap masa depan. 

Mark Joseph Stern, seorang penulis dari majalah harian Slate, pernah membuat sebuah ulasan berjudul ‘Neural Nostalgia: Why do we love the music we heard as teenagers?’. Dalam tulisannya itu, Stern membeberkan alasan mengapa kita suka lagu jadul dengan cara yang renyah. Dan aku pikir, aku perlu menuliskannya untukmu. 

Begini, Stern menjelaskan bahwa kala mendengarkan musik, ada reaksi kimia yang membanjiri otakmu. Ada dopamin, serotonin, dan oksitosin yang kemudian membuatmu merasa nyaman. Efeknya kurang lebih sama dengan narkoba. Ehem. Jangan sekali-kali pakai, ya! 

Saat kamu berusia 12-22 tahun, efek neurologis atas musik berada pada titik kulminasinya. Di usia itu, perkembangan saraf manusia memang mencapai puncaknya. Sadar atau tidak, kamu telah membangun koneksi terhadap sebuah lagu. Ada jejak nada yang kamu tinggal dan sisakan di masa depan. Itu yang membuatmu susah move on terhadap suara Nick Cartel dan teman-temanya. 

Barangkali, lagu-lagu mereka juga yang membuat wajahmu selalu tampak bahagia. Matamu selalu berbinar-binar saat kita bertemu. Aku yakin, kamu dapat dengan mudah dicintai dengan cara itu. 

Kamu pernah bercerita bahwa dirimu tak masalah makan di pinggir jalan. Kamu bilang, kamu simpel saja untuk urusan makan. Kalau tahu begitu, seharusnya kamu kuajak makan mi ayam sengketa. Itu mi ayam terenak di kampus UI. 

Jadi ceritanya, mi ayam itu terletak di antara FISIP dan FIB. Mahasiswa FIB menyebutnya mi ayam FISIP. Sementara mahasiswa FISIP menyebutnya mi ayam FIB. Kalau kamu tanya, aku tak tahu mengapa bisa jadi seperti itu. Tak ada untung atau pun rugi soal perkara klaim di mana mi ayam itu berada. Tapi itulah faktanya, mi ayam itu jadi bernama mi ayam sengketa. 

Hai kamu. Nanti aku ajak ke sana, ya! 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *