Disertasi Hubungan Seksual Nonmarital dan Belajar dari Giordano Bruno yang Mati Atas Nama Iman

Girdano Bruno

Iman adalah perkara prinsip. Ia tak pernah bisa dinegoisasi, dikalkulasi, apalagi dibantah. Karena watak iman yang keras itu, Giordano Bruno (1548-1600) tewas dibakar hidup-hidup. Filsuf sekaligus matematikawan asal Italia itu mati di hadapan iman sambil memeluk ilmu pengetahuan.

Bagi Gereja Katolik Roma, tesis Bruno tentang bumi mengelilingi matahari adalah penistaan agama. Kala itu, gereja mengimani bahwa bumi merupakan pusat alam semesta. Mereka percaya bahwa matahari lah yang sebetulnya tengah mengitari bumi.

Dalam perspektif gereja, malaikat akan kesulitan turun ke dunia apabila bumi yang mengelilingi matahari. Oleh sebab itu, segala hal yang bertentangan dengan logika agama dicap sebagai perbuatan yang menyimpang.

Pada saat itu pula, ilmu pengetahuan memang dirancang untuk melayani gereja. Semboyan yang berlaku adalah ‘Ancilla Theologiae’ (ilmu untuk agama). Tak ada kebebasan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Semua riset harus bertujuan untuk menebalkan iman yang bersumber dari otoritas, bukan sebaliknya.

Maka, kala Bruno tampil membawa tesisnya tentang kosmos, gereja langsung mevonisnya hukuman mati. Ia sempat diteror, dipenjara, hingga kemudian dieksekusi pada Rabu 17 Februari 1600. Ia dibakar hidup-hidup tepat pada Perayaan Rabu Abu, sebuah perayaan Penintensi (pertobatan dosa) umat Katolik.

Kematian Bruno lantas dipahami beragam. Butuh ratusan tahun kemudian untuk tahu bahwa apa yang disampaikan Bruno tepat. Bahwa tesisnya tentang heliosentrisme benar adanya. Kini, ia pun didaulat menjadi martir ilmu pengetahuan.

Dunia lalu menyadari bahwa ilmu pengetahuan tak bisa didikte oleh agama. Sebaliknya, ilmu pengetahuan memiliki otonominya sendiri yang tak bisa diintervensi oleh siapa pun. Tak ada otoritas yang berhak menganggu jalan sunyi ilmu pengetahuan dalam mencari kebenaran.

Begitu pula seharusnya cara kita memandang disertasi Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Abdul Aziz. Disertasi berjudul ‘Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital’ seharusnya diuji di kampus, bukan diuji di ruang publik, apalagi diuji oleh otoritas keagamaan.

Sebagai produk ilmu pengetahuan Abdul dilindungi Pasal 8 UU Perguruan Tinggi No 12 Tahun 2012 mengenai kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan. Disertasi miliknya, sekontroversial apa pun itu, mesti dipahami sebagai ikhtiar pencarian kebenaran. Dan itu secara etik tak bisa digugat oleh pihak luar.

Belakangan, Abdul mendapat teror karena disertasinya di media sosial. Teror itu persis dengan yang dirasakan Bruno sekitar 400 tahun silam. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu lagi terjadi saat ini.

Mendukung atau menolak karya seorang akademisi adalah satu hal. Namun, sepakat bahwa sebuah karya akademik harus memiliki otonominya sendiri adalah hal berbeda. Hal itulah yang harus dijaga.

Iman memang tak bisa dibantah. Tapi itu bukan berarti ia harus menampakan wataknya dalam wujud yang surplus kekerasan. Sebaliknya, sejauh iman merupakan sebuah prinsip, ia tak tergoyahkan. Iman sekuat dirinya yang mampu menolak hal yang penuh pertentangan.

Kalau Anda mengimani bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam. Kepercayaan itu tak akan berubah, meski apabila ilmu pengetahuan menyebut nenek moyang manusia berasal dari monyet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *