Dilema ‘Joker’

Photo by Quentin Rey on Unsplash

Mudah bagi kita untuk bersimpati terhadap Arthur Fleck. Rasanya gampang untuk mengasihani bagaimana si bujang lapuk itu menghadapi kenyataan–yang sialnya selalu pahit. Sekuat apa pun ia mencoba, hasilnya hanya akan berakhir memilukan. Dan itu yang barangkali ‘dekat’ dan ‘mewakili’ perasaan sebagian dari kita kala tertimpa musibah. 

Sepakat atau tidak, kita, juga Arthur, memang telah lama terperangkap dalam satu kondisi sosial yang sama. Manakala perundungan, hoaks, politikus busuk, hingga semua atribut negatif lainnya, kandung mengisi ruang publik dan dinding media sosial. 

Kita bisa marah saat melihat tokoh antagonis yang ingin menguasai dunia di film. Tetapi kita kesulitan, atau bahkan tak mampu mengutuk Arthur yang membunuh tiga orang secara brutal di kereta bawah tanah. Sulit pula bagi kita menyebut Arthur durhaka meski ia telah membekap ibunya hingga tewas. 

Dalam titik ini, kita di-framing untuk meyakini ada aksi yang mendahului reaksi. Kita lalu percaya bahwa sebuah alasan dapat menjadi komoditas yang dapat dipertukarkan. Jika jumlahnya mencukupi, alat tukar itu bisa menjadi kompensasi atas hilangnya nyawa seseorang. 

Semua yang diperbuat Arthur pun kian jadi masuk akal. Premis-premisnya tertata. Entah itu dialog, plot, tempat, dan waktu yang seluruhnya logis. Tak ada kontradiksi. Kita bahkan, boleh jadi, setuju bahwa Arthur memang harus menjadi Joker–badut sinting yang menebar kegilaan.  

Hans Gadamer, filsuf Jerman itu, bilang bahwa pemahaman kita terhadap sesuatu merupakan gerak dialektik yang disebut peleburan fusi cakrawala. Pengalaman seni adalah pengalaman makna yang terakumulasi sejak dulu. Barangkali, Gadamer memang benar. Pengalaman pahit kitalah yang menyebabkan kita mudah bersimpati dengan Arthur. 

Kisah Arthur–dalam film ‘Joker’– adalah cerita tentang representasi tatanan sosial yang sakit. Sesakit masyarakat yang tak lagi memiliki kanvas rem dalam bertindak dan berbicara. Semua yang ada di pikiran diucap, tanpa pernah memikirkan apakah orang lain kecewa atau sakit hati karenanya. 

Persoalannya, ‘Joker’ adalah sebuah film yang memiliki sebuah pesan. Hal lainya, film akan selalu terikat pada cakrawala (wawasan) para penontonnya. Kala pesan dan cakrawala itu bertemu, sebuah dilema ‘Joker’ muncul. 

Joker

Di satu sisi, ‘Joker’ berbicara tentang masyarakat yang seharusya tidak sakit. Film itu mengingatkan bahwa sosok Joker seharusya tak pernah muncul bila kita (masyarakat) lebih menghargai orang lain. Di sisi lain, film itu rentan tergelincir menjadi sebuah afirmasi untuk mencabut nyawa seseorang. Sejauh rasa sakit yang dihasilkan itu besar, berbuat sesuka hati menemukan maknanya. 

Perkara pesan mana yang sampai ke kepala penonton jelas tak ada yang tahu. Belum ada riset yang mempermasalahkan apa konsekuensi menonton film ‘Joker’. Apakah intropeksi diri agar tak berbicara sembarangan, atau justru memosisikan diri sebagai Joker itu sendiri yang berhak melakukan apa pun. 

Pilihan pertama barangkali lebih bijak–meski tampak mustahil. Berharap agar semua orang bersikap ramah adalah utopis. Sama tidak mungkinnya dengan membayangkan dunia tanpa adanya orang miskin.

Celakanya, pilihan kedua yang jauh lebih mendekati kenyataan. Memosisikan diri sebagai Joker itu lebih mungkin bisa terjadi. Pengalaman sepahit putus cinta, ditolak sana-sini oleh perusahaan, atau sesederhana dibilang tak becus dalam satu hal, bisa menjadi bom waktu yang kapan pun bisa meledak. Muaranya adalah merasa hidup paling menderita di dunia ini. 

Di AS, fenomena semacam itu telah mencuat dan menjadi sebuah budaya baru. Dahulu, warga AS menyelesaikan persoalan dengan adu jotos. Mereka hidup dalam budaya kehormatan. Namun sekarang, yang tercipta adalah budaya korban. Di titik itu, orang tak lagi memilih untuk baku hantam secara langsung. Mereka justru memilih diam, memupuk dendam, dan berceloteh ke sana ke sini bahwa dirinya adalah korban yang mesti diperhatikan. 

Fenomena kebudayaan itu dengan apik ditangkap oleh Bradley Campbell dan Jason Manning. Keduanya merupakan sosiolog yang secara khusus menaruh perhatian pada perubahan moral radilkal warga. Penelitian mereka terangkum dalam sebuah buku berjudul ‘The Rise of Victimhood Culture’ (2018). 

Singkatnya, mereka berpendapat bahwa masyarakat kontemporer AS lebih suka mengutuk kegelapan. Alih-alih menyalakan api sebagai penerangan. Keduanya mendeteksi bahwa dibanding menjadi pahlawan, orang lebih cenderung memilih menjadi pihak yang merasa paling tersakiti dan menderita. 

Sejauh kenyataan adalah apa-apa yang dikonstruksi, bukan tidak mungkin bahwa ‘Joker adalah jawaban dari mereka yang telanjur putus asa dalam hidup. Telebih untuk makin mempertegas mereka yang selalu merasa hidupnya paling sial.

Kini pertanyannya, mungkinkah orang akan senekat Joker?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *