Au Revoir, Aulia Risyda!

Kita tak lagi bisa melakukan apa-apa. Barangkali karena memang tak ada lagi anasir yang tersisa.  Kecuali fakta bahwa kita pernah bekerja di tempat yang sama. Lalu ada jejak yang senantiasa menunda (restance). Itu, misalnya, tentang ingatan kita terhadap apa-apa yang terjadi di masa silam. 

Tentu saja, aku mengingatmu dalam banyak situasi. Mulai dari perkenalan pertama kita di ruang kantor yang surplus irasionalitas (ada papan tulis yang berbentuk segitiga siku-siku!), proyek kerjaan bersama, muratalmu di musala, hingga kata-kata terakhirmu yang menyebutku sebagai penyederhana sesuatu yang rumit. 

Di antara semua itu, aku paling ingat tentang caramu memanggilku yang tak biasa. Di saat semua orang memilih menyebut nama tengahku, Baiquni, kamu justru memilih nama depanku, Rizki. Padahal, tak sembarang orang berani memanggilku demikian. Kecuali keluarga dekat dan ada pula mantan yang pernah memanggilku begitu. 

Dalam pertemuan pertama kita, kamu sempat mengaku tertarik dengan filsafat. Sayangnya, hingga hari-hari terakhir, kita tak pernah datang ke diskusi filsafat yang serius. Berharap untuk kesempatan lain pun sepertinya tak mungkin. Dari pengalamanku, perpisahan selalu menciptakan jarak dan situasi yang serba tidak sama lagi.

Faktanya kamu sudah menikah sekarang. Ada tanggung jawab baru yang terbentang di sana. Tapi tenang saja, filsafat adalah sebuah kontemplasi. Saat kamu memikirkan sesuatu, mempertanyakannya, lalu merasa ada yang keliru, maka itu tak tak lain adalah berfilsafat. Semua orang bisa melakukannya. 

Ya, aku percaya bahwa kamu juga bisa melakukannya. Apalagi sejauh aku mengenalmu, kamu adalah pembelajar yang tekun. Tipe orang yang lebih suka masuk pagi ketimbang siang dan malam. Juga tampak polos, tapi sebetulnya tahu banyak. 

Di antara teman-teman yang lain, kamu adalah orang yang paling tidak betah nongkrong di kantin. Pernah aku mengajakmu makan bersama, tapi kamu selalu balik kanan lebih awal. Padahal, kita semestinya bisa lebih banyak berbicara di situasi yang lebih santai. 

Barangkali itu disebabkan oleh hobimu yang lebih memilih pesan makanan online. Kamu adalah inisiator sekaligus pemasok makanan ringan untuk teman-teman content intelligence. Dalam sejumlah kesempatan, aku mendapat voucher go-food gratisan darimu. Terima kasih, ya!. 

Sekarang aku tak tahu apakah kita bisa bertemu lagi atau tidak. Memang semua serba bisa direncanakan. Terlebih, manusia modern cenderung menganggap masa depan adalah kepastian-kepastian yang terukur. Tapi kenyataan justru seringkali berbicara sebaliknya. 

Meminjam terminologi Heidegger, masa depan justru adalah sebuah kehampiran (Nahheit) yang tak pernah bisa didekati secara pasti. Kita kian terjebak dalam situasi yang serba mungkin sekaligus terus memastikan kepastian tak pernah pasti.

Di antara ketakpastian-ketakpastian itu, aku terus percaya bahwa hidupmu akan selalu jauh lebih baik. Jika suatu saat kita memang bisa berjumpa lagi, aku akan mengucapkan terima kasih sekali lagi . Au Revoir, Aulia Risyda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *