Bayangan

Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu mengikutimu. Mengikuti setiap derap langkahmu. Mengikuti apa-apa yang diucapkan olehmu. Mengikuti setiap gerakan isyarat yang sengaja diciptakan darimu.  Kamu mungkin memang tidak menyadarinya, atau bahkan mengabaikan kehadiranku. Tapi ketahuilah, aku akan selalu setia untuk ada di sana, memperhatikan dan menyalinmu dalam waktu yang tidak sebentar.  Pernah kamu bercerita kepada […]

Continue Reading

Bila Ibrahim Tiba Hari Ini

Iman kerap dipahami sebagai modus penerimaan secara sukarela terhadap suatu sistem kepercayaan yang dianggap benar. Dalam hal ini iman jauh melampaui segala doktrin filosofis mengenai rasionalisme maupun empirisme. Terkait pertanyaan bagaimana kita mengetahui dan menyingkap kebenaran, rasionalisme akan selalu mempostulasikan akal sebagai hakim tertinggi, sementara itu empirisme menyibukan dirinya dengan pengalaman indrawi, di sini iman […]

Continue Reading

On Forgiveness

Sore tadi saya begitu menikmati teks Deridda; “On Forgiveness”, sebuah gumpalan pemikiran filsuf postmo yang saya kira begitu relevan bila dikontekstualisakan pada hari raya Idul Fitri esok hari. Di saat kita sama-sama tahu bahwa esok kata “maaf“ mengalami deflasi akut dan akan menjadi barang obral yang akan sangat mudah untuk dijumpai. Dan boleh jadi esok […]

Continue Reading

Teroris(me) dan Gugatan Terhadap Pencerahan

Tidak ada yg salah dengan lelucon-lelucon kelas menengah mengenai tukang sate, tukang kacang, hingga polisi ganteng pada peristiwa bom kamis lalu. Tapi, lelucon-lelucon pendek itu begitu berpotensi untuk melenyapkan nalar kita untuk berpikir lebih jauh. Untuk itu, saya ingin memberikan satu alternatif pembacaan dalam melihat problem ini. Salah satunya adalah kembali memeriksa agenda Pencerahan yg […]

Continue Reading

Ojek Online dan Sekaleng Oli Untuk Kak Jonan

Resmi, ojek online dilarang. Kira-kira begitu pernyataan dari kak Jonan, menteri perhubungan yang kita kasihi dan sayangi. Maksud kak Jon(an) boleh jadi baik, ia ingin agar kita semua taat aturan, taat asas, dan mengajarkan kita akan pentingnya memuja/i hukum positif di negeri kita tercinta ini. Kak Jon tentunya juga ingin melindungi kita dari kesemrawutan pikiran, […]

Continue Reading

Andai Tak Ada Bahasa

Saya yakin betul bahwa akar dari perselisihan yg berujung pada kematian tak lain adalah karena hadirnya bahasa. Adanya bahasa menyebabkan tejadinya retakan pada realitas. Apabila diibaratkan pada sebuah lingkaran, maka bahasa berperan membuat bilangan pecahan yg amat banyak. Pecahan2 tersebut kian memiliki nama tersendiri, keberhinggaan, sebuah identitas.  Dalam hal ini sebuah identitas selanjutnya melihat dirinya […]

Continue Reading

Tentang Anto

Alkisah ada seorang anak di belahan timur yang hidup dalam garis kemiskinan. Nama anak itu adalah Anto. Di situ Anto selalu berdoa agar dapat mengakses sekolah yg setinggi-tingginya. Tidak hanya sekolah yg tinggi, namun juga berharap untuk dapat “mengencingi” tanah ibu kota, mengubah jalan takdirnya, begitu katanya. Hari demi hari, doa yg diiringi usaha membawa […]

Continue Reading

Menyoal Hate Speech

Belakangan ramai membahas megenai surat edaran dari polri mengenai ujaran kebencian (Hate Speech). Di situ reaksi masyarakat pun muncul, ada yg manut-manut saja dengan menggaransikannya pada doktrin agama yang memang melarang perkataan kotor, ada yg kritis dengan lantang mengatakan bahwa ini bentuk pembungkaman demokrasi bung, ada juga kelas menengah ngehe yg cukup tau lalu berkata; […]

Continue Reading

Saya, Skripsi dan Wisuda

Saya yakin betul bahwa setiap manusia itu memiliki dimensi historisitasnya masing-masing, berusaha menjalaninya, hingga membentuk narasi yang penuh makna. Meminjam kata-kata puitis dari Heideger, manusia adalah sesuatu yang tergeletak di sana (Das-Sein). Di situ manusia telah selalu menjumpai dirinya menyatu dengan dunia, dan terlibat di dalam sebuah dunia yang hadir bagi dirinya yang dilibati (zuhandenes). […]

Continue Reading

Otokritik di Perayaan Idul Adha

Kita yg hidup saat ini seringkali terpana pada “orang sholeh” yg seolah begitu paham terhadap agama dan berbicara atas nama agama. Di situ pun kita juga biasa menghayati agama sebagai ritual kolektif yg obyektif, yakni menjalani ritual sebagai ritual belaka yg diafirmasi oleh yg sosial. Mulai ritual sholat hingga potong kurban misalnya. Untuk itu, si […]

Continue Reading