Bagaimana Filsafat Memahami Cuitan BMKG soal Tak Ada Tsunami di Anyer


Saya kaget mendengar ada tsunami di Anyer, Banten, Sabtu malam (22/12). Kabar buruk itu saya peroleh dari kumparan saat berpesta dengan ribuan Outsiders dan Lady Rose di konser SID. Belum hilang rasa kaget itu, netizen menyebut berita tsunami yang diturunkan kumparan sebagai hoaks. Kekagetan yang saya alami pun bertambah dua kali lipat.

Dalil netizen adalah sebuah cuitan BMKG yang menyebut fenomena di Anyer sebagai air pasang yang disebabkan bulan purnama. Di Twitter–yang kini cuitannya sudah dihapus–BMKG bahkan meminta masyarakat agar tetap tenang.

Saya yang saat itu berada di lapangan terbuka, memang menyaksikan bulan bersinar lebih terang daripada biasanya. Argumentasi BMKG itu logis sejauh ia dipahami sebagai kausalitas tunggal atas fenomena alam di Anyer. Kita yang pernah belajar IPA di SD, juga paham betul bahwa ini ulah gravitasi bulan dan matahari. Semua masuk akal.

Persoalannya, yang tampak masuk akal belum tentu merupakan kebenaran itu sendiri. Tak pernah ada jaminan untuk itu. Filsafat, utamanya epistemologi (teori pengetahuan), bertugas untuk menguji klaim-klaim kebenaran. Pertanyaan filosofisnya begini, pembenaran macam apa yang diklaim sebagai pengetahuan atas fakta yang terjadi?

David Hume, seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia, memiliki elaborasi menarik atas pertanyaan tersebut. Dia menyingung soal kapasitas manusia dalam memahami alam. Bagi Hume, manusia senantiasa mencari kausalitas, selalu menuntut eksplanasi ini itu atas sesuatu yang terjadi. Padahal, kata Hume, kausalitas itu ilutif.


Begini, klaim BMKG yang menyulut perundungan netizen terhadap kumparan singkatnya bertumpu pada empirisme dan silogisme. Prermis-premisnya dapat dirumuskan sebagai berikut:

Premis 1: Gelombang air pasang disebabkan bulan purnama

Premis 2: Anyer dilanda gelombang air pasang

Konklusi: Gelombang air pasang di Anyer disebabkan bulan purnama

Sekilas, penalaran tersebut memang dapat diterima akal sehat. Terlebih, bulan purnama sebagai variabel primer memang nyata terjadi pada Sabtu malam. Namun, kata Hume, penalaran semacam itu terlalu penuh risiko. Pertama, soal keabsahan premis 1 yang dipostulasikan pada pengalaman masa lalu. Kedua, soal kausalitas yang menipu nalar manusia.

Menurut Hume, pengetahuan mendasar umat manusia terhadap sesuatu selalu didasarkan pada pengalaman masa lalu. Namun, pengetahuan itu bermasalah lantaran tak memiliki basis epistemik yang kuat. Sederhananya, tak ada pembenaran yang bisa menjamin bahwa kebenaran di masa lalu itu dapat berlaku pada hari ini.

Misalnya begini, manusia selalu melihat bahwa matahari kerap terbit dari timur. Esoknya, serta esoknya lagi, manusia memiliki keyakinan bahwa matahari akan terbit di jalur yang sama. Persoalannya, keyakinan tersebut tidak pernah pasti terjadi. Penalaran manusia terhadap saat ini yang didasarkan pada masa lalu hanyalah perkara rutinitas semata.

Rutinitas itu lantas mendorong manusia menghubungkan dua peristiwa yang berbeda sebagai kausalitas. Penalaran ini yang juga menjangkiti BMKG selaku pemegang otoritas ilmiah. Yakni, menghubungkan dua peristiwa berbeda berupa pasangnya air di laut dengan adanya bulan purnama sebagai penyebab dari peristiwa di Anyer.


Dalam bahasa latin, terperangkapnya BMKG dalam kausalitas itu dikenal sebagai Post hoc ergo propter hoc (setelah ini, oleh karena itu, karena ini). Suatu kesesatan logis lantaran menyimpulkan sesuatu berdasarkan urutan peristiwa, minus mengkalkulasi variabel lain yang mungkin melenyapkan rangkaian peristiwa tersebut.

Di mata Hume, kausalitas itu sendiri tak pernah eksis di luar sana. Kausalitas justru merupakan gambaran imajiner di kepala manusia yang selalu ingin memiliki penjelasan. Di sinilah Hume menyodorkan serialitas untuk menggambarkan dua peristiwa yang saling terjadi tersebut.

Serialitas, kata Hume, merupakan dua peristiwa yang saling berurutan. Dalam kasus tsunami di Anyer, fenomena bulan purnama dan air pasang merupakan serialitas. Artinya, bulan purnama tidak bisa dijadikan argumentasi atas naiknya air. Itu merupakan dua peristiwa yang sekadar terjadi bersamaan.

Elaborasi filsafat Hume ini juga jelas memiliki konsekuensi lain. Fakta yang terungkap belakangan, bahwa ada Gunung Krakatau yang erupsi pun jadi tidak bisa menjadi dalil atas peristiwa yang memakan korban jiwa tersebut.

Maka, di tangan Hume, kepastian telah runtuh. Ilmu pengetahuan hanya mampu menciptakan kemungkinan-kemungkinan. Sejauh mana dalilnya mendekati kebenaran, tapi bukan kebenaran itu sendiri.

Konsekuensi etisnya, mari melihat peristiwa alam secara bijaksana. Eksplanasi atas bencana alam bukanlah segala-galanya. Lain dari itu yang dibutuhkan adalah mitigasi, soal bagaimana korban mendapatkan pertolongan secepatnya.
Tulisan ini sebelumnya di-unggah di kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *