Kala Modernitas Menyingkirkan Mereka yang Nongkrong dan Makan di Stasiun MRT

Sebagian orang jengkel dengan aksi penumpang MRT yang nongkrong dan makan di stasiun. Rasa jengkel itu ditumpahkan ke media sosial. Di sanalah mereka menyebut penumpang itu tak beradab, norak, dan tak berbudaya. Ucapan itu barangkali memang tak bermakna apa-apa. Lebih khusus untuk kita yang terbiasa hidup dalam arus perkotaan. Di kala efisiensi menjadi tolak ukur, […]

Continue Reading

Menalar Murka Tuhan di Televisi

Ilustrasi Azab Dok: kumparan     Seorang teolog Jerman, Rudolf Otto, dengan apik menggambarkan bahwa Tuhan adalah Dia yang dialami. Pengalaman itu bisa berarti banyak hal, kesulitan atau kemudahan, kemerdekaan atau keterbelengguan, hingga kemurkaan atau kewelasasihan. Dua keping yang saling berkebalikan itu setia membayangi hidup manusia. Keberadaan sosok yang kudus disadari dengan cara seperti itu. […]

Continue Reading

Tahun Baru, Waktu dan Ketakbermaknaan

Banyak yang berpikir bahwa waktu adalah skema untuk menandai pencapaian seseorang. Detik yang berganti menit, jam, hari, bulan, hingga tahun yang kemudian dipahami sebagai sebuah perayaan. Serba cepat, spesial, meriah dan penuh kegembiraan. Beragam resolusi pun diikrarkan, ada yang melabuhkan doa serta harapan untuk lulus kuliah, enteng jodoh, kenaikan pangkat, naik gaji, hingga hal lainnya […]

Continue Reading

Cerita Perpisahan dari Baiquni

Kalau bukan bodoh, pasti saya sudah sinting. Menolak dibayar nyaris dua digit per bulan. Meninggalkan seluruh zona nyaman yang telah saya dapatkan, meletakan dengan hormat jabatan yang telah dibangun, setidaknya dalam dua tahun terakhir.Sejujurnya, saya masih tak percaya melakukannya. Ditawari nominal yang fantastis, saya justru mengakhirinya. Mengambil risiko untuk menjadi seorang jurnalis. Sebuah pilihan yang […]

Continue Reading

Saya, Skripsi dan Wisuda

Saya yakin betul bahwa setiap manusia itu memiliki dimensi historisitasnya masing-masing, berusaha menjalaninya, hingga membentuk narasi yang penuh makna. Meminjam kata-kata puitis dari Heideger, manusia adalah sesuatu yang tergeletak di sana (Das-Sein). Di situ manusia telah selalu menjumpai dirinya menyatu dengan dunia, dan terlibat di dalam sebuah dunia yang hadir bagi dirinya yang dilibati (zuhandenes). […]

Continue Reading